Pasie Saka Aceh Jaya

saka
Pasie Saka teletak di Gampong Jeumpheuk, Kecamatan Sampoiniet Aceh Jaya, 28 Km dari Kota Calang, Ibu Kota Aceh Jaya, tepatnya di kilometer 117.
Pasca tsunami, yang melumpuhkan sebagian besar jalur transportasi darat, daerah ini pernah digunakan sebagai jalur alternatif bagi warga yang ingin ke Meulaboh-Banda Aceh atau sebaliknya dengan menggunakan rakit penyeberangan. Bagi sebagian orang, kawasan ini juga dekenal dengan sebutan Babah Nipah.
Cuaca pagi itu belum begitu menyengat. Rona biru langit dan keindahan hamparan Samudera Hindia, menemani perjalanan kami. Tak terasa, sudah sejam setengah waktu yang kami habiskan di atas sepeda motor.
"Kita singgah di Rigaih sebentar bang, sambil minum," tawar Muffaruddin, sambil memelankan laju motor.
Kami berhenti di salah satu caffe di pinggir pantai Rigaih, dekat tempat pendaratan ikan. Sambil meneguk air mineral dingin, mata Muffarudinmemperhatikan setiap boat nelayan yang lalu lalang. Boat-boat itu tak menurunkan ikan, tapi hilir mudik mengangkut puluhan manusia.
"Hawa that lon meujak keunan bang (ingin sekali saya ke sana bang)," gumamnya sambil menunjuk ke salah satu pulau di seberang Rigaih.
Dari tempat kami duduk, pulau itu hanya terlihat bagai gundukan bukit kecil dengan tebing yang samar dari kejauhan. "Itu Reusam?" tanyaku santai. "Sudahlah lain waktu saja, lagian di situ sudah ramai pengunjung. Kita harus fokus ke tujuan utama hari ini," sambungku menenangkan.
Walau sebenarnya saya sendiri penasaran dengan Pulau Reusam, yang menurut orang-orang alamnya eksotis. Namun karena kondisi keuangan betul-betul "sekaratul maut," rasa penasaran itu harus dipendam sesaat. "Bang, sama saya ada uang ni 100 ribu, besok jadi kita jalan ya. Cukup lah untuk uang minyak dan makan di jalan," tiba-tiba kata-kata Muffarudin semalam melintas begitu saja di kepala.
Setelah beristirahat 15 menit dan mendapatkan informasi tambahan tentang Gampong Jeumpheuk, dari seorang kawan di Rigaih, kami pun melanjutkan perjalanan. Meski informasi awal sudah kami kumpulkan lewat browsing internet, namun kami tak mau sok tahu yang dapat memperlabat kami sampai ke lokasi. Kali ini saya yang mengemudi.
Perjalan pun kami lanjtukan. Muffarudin, sibuk memperhatikan setiap plang (rambu) di pinggir jalan raya Banda Aceh-Meulaboh. "Tak lama lagi kita sampai bang," kata Muffarudin, setengah berteriak setelah melihat angka 120 Km yang tertulis di rambu jalan. Itu artinya, tiga kilometer lagi kami sampai ke Gampong Jeumpheuk.
Tak lama berselang, laju motor semakin melambat. Kami sudah berada tepat di depan plang 117 Km. Di seberang kanan jalan, terdapat pamplet bertulis "Selamat Datang di Gampong Jeumpheuk, Kecamatan Sampoiniet Kabupaten Aceh Jaya."
Saya menghentikan motor tepat di depan dua bocah perempuan yang sedang berjalan di pinggir pembatas jalan. Usia mereka sebaya. Kedua tangan mereka memegang Buah Kuini (saya tak paham istilah dalam bahasa Indonesia. Buahnya mirip-mirip mangga gitu).
"Dek, kalau mau ke Pasie Saka lewat mana," tanya saya. "Masuk lewat jalan samping warung itu bang," jawab seorang dari mereka sambil menunjuk ke arah jalan dimaksud.
"Bereh, makasih beh. Pane boh kuini nyan, toh kamoe saboh. (beres, terimakasih ya. Buah kuini darimana itu, kasih kami satu)," pinta saya menggoda. Tanpa sempat mereka menjawab, kami langsung tancap gas.
Di warung yang dimaksud anak kecil tadi, kami berhenti membeli minum dan makanan ringan (satu pack roti unibis) untuk ganjal perut. Di sana kami juga mencoba menggali informasi tentang Pasie Saka. "Kurang tahu saya, kami saja tidak pernah ke sana. Dengar-dengar saja pernah," jawab ibu pemilik warung setengah heran. "Coba tanya sama abang di depan itu, dia pelaut mungkin pernah ke situ," sambungnya sambil menunjuk ke arah laki-laki paruh baya yang duduk di depan warung.
"Lokasinya tidak jauh dari sini. Tapi agak susah dilalui. Mungkin kalau kalian bawa motor ke sana, tidak bisa boncengan. Dari sini jalan terus, di samping rumah itu, sebelum simpang, ada jalan tikus, ikuti saja jalan itu," ujar laki-laki itu.
Tanpa berpikir panjang, kami pun langsung pamitan dan bergerak ke arah yang dimaksud. Benar saya, jalannya begitu sempit dan dipenuhi semak ilalang di kiri kanannya. Sekitar 20 meter dari jalan desa, kami masih bisa berboncengan, namun setelah itu kami harus berhadapan dengan dakian bukit yang penuh lubang. Kalau tidak hati-hati, jurang dan pepohonan siap menyambut. Saya terus berusaha mengendalikan motor agar tidak oleng atau mundur ke belakang. Sementara Muffarudin, berjalan kaki sambil menenteng tripot. Hitung-hitung untuk kempesin perut katanya.
Limabelas menit sudah kami mendaki. Sambil menunggu Muffaruddin, saya mengeluarkan kamera dari tas untuk mengatur pencahayaan dan mendokumentasikan beberapa foto dari atas bukit. Dari puncak bukit, saya sudah bisa melihat hamparan laut biru di antara rindangnya pepohonan. Setelah memastikan semua beres, kamera pun tergantung di bahu, bak fotografer andal di tv.
Muffarudin datang dengan teriakan kecil “Bang, hek that lon (Bang, capek sekali saya),” saya hanya tertawa terbahak “jak lom,” kata saya. Keringat mulai bercucuran, nafasnya terengah-engah. Saya pun memintanya untuk mengendarai motor “Abang tidak ikut sekalian?” tanyanya. “Sudah, jalan terus, jalannya agak susah kalau boncengan.” Ia pun langsung menurunkan motor pelan-pelan dari perbukitan. Saya berjalan kaki di belakang. Tak lama berselang, Muffaruddin menghilang antara daun-daunan dan semak yang menutupi jalan.
Setelah 30 menit menelusuri perbukitan, rasa lelah kami seakan langsung hilang begitu deru ombak menyambut kami. Di hadapan kami terbentang lautan biru yang begitu indah. Pantainya bersih, pemandangan di sekitar begitu asri. Di sebelah kiri kami berdiri, dua tebing yang hampir sama tingginya dengan bukit yang baru saja kami lalui terlihat begitu koko, meski ombak berkali-kali menghantam. Mereka seperti sedang bercanda.
Saya langsung bergegas berjalan mengitari kaki bukit, mencari jalan untuk turun ke pinggir pantai. Muffaruddin mengikuti dengan sepeda motor. Padahal saya menyarankan, agar motor diparkir di bawah pohon kelapa di kaki bukit kami berdiri tadi. Tapi ia tidak mau, katanya supaya lebih aman. “Jangan sampai nanti pas kita balik, motor saya sudah dibawa naik ke pohon kelapa sama monyet bang,” candanya.
Tanpa aba-aba, tangan saya langsung mengangkat kamera dan mengabadikan setiap jengkal keindahan pantai yang masih “perawan” ini. Pasie Saka aku ingin mencumbu mu, sekali lagi...!!

Related Posts:

0 Response to "Pasie Saka Aceh Jaya"

Post a Comment